Belajar Goblok

2:33:00 PM


Celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit. Tampilan yang apa adanya menunjukkan kesederhanaan. Luwes dalam pembawaan sehari-hari, dialah Bob Sadino. Beliau adalah seorang enterpreneurship idola saya. Sungguh tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kekaguman saya pada beliau. Bukunya yang berjudul "Belajar Goblok Dari Bob Sadino" dan "Mereka Bilang Saya Gila" benar-benar menginspirasi saya. Kita tidak perlu menjadi orang lain, jadi diri kita sendiri. Saya dan teman-teman memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal apapun, terutama dalam hal akademik. Dulu saya sering berpikir saya harus pintar di sekolah dan dapat rangking untuk bisa SUKSES. Tapi dalam kenyataannya kemampuan saya dengan beberapa teman saya sangat jauh, sungguh itu menyadarkan saya. Lalu dalam hati saya berpikir bagaimana saya bisa sukses kalau ternyata ada teman saya yang lebih pintar dalam pelajaran? Tapi akhirnya saya dapat jawabannya. Apa itu? Tetap ikuti tulisan saya ini.



Saya akan sedikit(tapi bo'ong) bercerita tentang idola saya satu ini. Dulunya pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan Unilever. Karena usaha dan semangat, beliau kemudian menjadi pengusaha sukses.
Titik balik kehidupan keluarga Bob Sadino dimulai saat Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya dan mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan, tercukupi dengan gaji yang cukup besar.

Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus mau kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob yang suka memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya akhirnya mendapat ilham. Ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam waktu satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Usahanya itu tidak mulus, tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri dan mulai memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” ini kata-kata Bob yang menginspirasi.

Keberhasilan Bob berawal dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses ini yang berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sikap Bob yang selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan, Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Keberhasilan dan Sukses

''Saya hidup dari fantasi,'' kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini tidak hanya berkata saja ia memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ''Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,'' kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

Lalu, kembali pada pertanyaan saya tadi bagaimana saya bisa sukses kalau ternyata ada teman saya yang lebih pintar dalam pelajaran?
PERHATIKAN.
Caranya adalah dengan FOKUS pada KELEBIHAN kita. Sekali lagi, FOKUS pada KELEBIHAN kita masing-masing. Jadilah diri sendiri. Dan yang paling penting, untuk SUKSES selain pintar kita WAJIB memiliki NILAI TAMBAH. That's it!

Pesan dari saya, belajarlah dari orang lain tetapi jangan belajar menjadi orang lain. SUKSES!

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

You Might Also Like

1 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images